1 September 2009

Adam dan Hawa, Sebuah Tafsir


Untukmu Rehan, saya tidak faham dan bingung bersikap. Kau aneh akhir-akhir ini. Malaikatku “kepala seksi intelijen” bilang kau telah berbuat sesuatu yang keliru. Kata “keliru” memang penuh tafsir; keliru yang berdosa, keliru yang dimaafkan atau memang kau melakukan sesuatu yang benar namun dilihat sebagai ‘keliru’ oleh orang lain. Aku tak tahu seperti apa, dan dalam posisiku saat ini –Dewan Fatwa J.I.A- aku merasa belum layak mengeluarkan fatwa apapun. Begitu rumit dan hermeneutis.


Untukmu Mbak, saya menyesal –tulisan kemarin begitu emosional-. Saya seharusnya melihat konteks. Mungkin Mbak sedang dalam posisi sulit, dan entah mengapa saya kok merasa menjadi tertuduh. Tapi percayalah Mbak, saya tak akan melakukan hal yang bodoh. “Kemuliaan” itu dan saya tak ingin mengotorinya. Saya tidak akan minta maaf, karena–mengambil istilah Rehan- Mbak mungkin tak akan pernah peduli.

Saya minta maaf dengan menyebutnya di hati saja.

***

Saya membayangkan Adam duduk sendirian di dalam surga. Surga atau jannah yang berarti kebun. Kita tak perlu untuk me-rasional-kan surganya Adam. Rasionalisasi hanya akan mengikis nilai-nilai yang lama diyakini. Semacam desakralisasi atau pendangkalan makna. Namun menganggap sebagai “surga sebenarnya” mungkin hanya menyediakan ruang bagi para “paranoid” untuk mempertanyakan; Kok di sana ada dosa, Bagaimana mungkin Iblis bisa masuk surga lalu menggangu Adam dan Hawa? Kita tawaquf saja, kata Ibnul Qayyim. Kita maklumi keberadaan surga Adam.

Saya membayangkan Adam menoleh ke kanan kiri mencari teman. Kemarin lusa, ia menjalani tes wawancara bersama malaikat dan hasilnya mumtazcum laude-. Entah sekedar formalitas dan sekali lagi kita percaya saja, Adam berhasil menyebutkan nama-nama benda di hadapannya sekaligus meyakinkan para malaikat yang meragukan eksistensinya. Lusa, malaikat ‘mendebat’ Allah bahwa Adam dan cucunya hanyalah akan memenuhi dunia dengan darah dan kerusakan. Sebuah dugaan yang mungkin berangkat dari pengalaman empiris bahwa dulu pernah ada makhluk yang merusak. Atau itu hanya percakapan imajiner atau sudah di skenario? Wallahu A’lam, yang jelas Adam masih sendirian. Bisik-bisik di belakang, ia mendengar bahwa Allah akan menciptakan baginya seorang teman. “Teman yang berbeda” kata malaikat. “Satakunu juz’un minka”, ia akan menjadi belahan jiwamu. Ia diciptakan dari tulang rusukmu.

Ulama tafsir klasik tak ada yang mempersoalkan tentang penciptaan Hawa. Ibnu Katsir, Ar-Rozi, Zamakhshari, Alusi, Ath-Thobari atau yang lain-lain. Bahwa ia diciptakan dari tulang rusuk adam, tak akan membuat Hawa atau wanita lebih rendah dari Laki-laki. Belakangan, ada orang-orang yang mempersoalkannya. Mereka mungkin berangkat dari asumsi bahwa paradigma tentang penciptaan akan berpengaruh bagaimana dunia memandang wanita. Apriori yang berlebihan.

Pada kenyataannya tak ada misogyni atau sensitive gender pada setiap kisah tentang Adam di dalam Al-Qur’an. Kata ganti yang Allah gunakan adalah kum, hum atau huma atau merujuk ke keduanya. Ketika mereka berbuat dosa dengan bantuan Iblis, bukan salah Adam saja atau Hawa saja. Doa Adam: “Rabbana Dholamna anfusana….(Ya Rabb kami Dholim terhadap diri kami sendiri)”. Adam tidak pernah berdoa: “Rabbana Dholamat Hawa anfusaha..(Ya Rabb, ini gara-gara Hawa, dia mendholimi dirinya …!!)”

Saya membayangkan mereka berdua malu. (al-A'raf: 20-23). Mereka harus berpisah dan turun ke dunia. Mereka memang tidak harus bersama untuk sementara. Bisa dibayangkan jika mereka tetap bersama. Hawa akan berkata: Antum ki pancen kok!? Udah dilarang malah ngeyel. Adam mengelak: “Ini takdir Ukhti!! Kita jalani saja. Anti juga salah sih”. Mereka bertengkar. Setidaknya berpisah akan sedikit mengajarkan mereka arti kesendirian. –bisik-bisik dari sumber yang tidak jelas, Adam turun di Afrika, Hawa di India, lalu Iblis? Kesasar di Indonesia. Ungkapan rasialis dan saya tidak suka-

Pada akhirnya mereka bertemu di Jabal Rahmah. Gunung kasih sayang, begitu tafsiran bebasnya. Di sinilah saya mulai tidak faham apa yang dirasakan Adam dan Hawa. Mungkin mereka menemukan sejenis “surga cinta” –sesuatu yang kata penyair murung itu, kini dipertanyakan banyak orang-




1 September 2009


29 Agustus 2009

KUMAT MENEH PO ?? (Offline)


Pada suatu hari, Ikarus, yang terpenjara di Pulau Kreta, ingin melarikan diri melalui udara, terbang. Ayahnya, Daedalus, seorang penemu, membuatkannya sayap. Bulu-bulu garuda pun dihimpun dan ditata, dan akhirnya sepasang suwiwi besar pun jadi, direkatkan dengan lilin ke tubuh si anak. Ia terbang. Tapi ia terbang terlalu tinggi, mendekati matahari. Lilin itu pun meleleh oleh panas surya, dan suwiwi itu tanggal, dan Ikarus jatuh ke bumi, ke Laut Aegea. Ia tenggelam.

(Catatan Pinggir –Pada Suatu Hari, Ikarus- Sebuah Mithologi Yunani)



Ijinkan saya –lelaki setengah fiktif- bertanya kepada Mbak; Apa maksud pertanyaan Mbak di atas pada diri saya. Saya memang setengah fiktif namun Mbak tidak sedang bicara dengan sebongkah batu atau sebuah robot.


Kita sering lupa bahwa tiap sosok yang bicara selalu hadir sebagai persona; bagaimana ia mempresentasikan diri sebagai respons terhadap orang lain tempat ia bicara. Dan yang harus Mbak pahami adalah: dalam beberapa pesan yang dikirim -apapun bentuknya-, Mbak tidak sekedar masuk dan diam di sebuah ruang komunikasi yang paling intim, tapi juga berada dalam ruang pikiran dan imajinasi yang hampir tanpa batas. Tak ada orang lain selain kita. Kita bisa menghadirkan orang lain namun mereka tetaplah pasif. Kita berdua yang berkuasa.


-Apakah kita sama-sama berdosa?- Masih tersediakah ruang tafsir bagi kita?


***

Aku manusia

Rindu rasa

Rindu rupa

(Amir Hamzah)


***


Tolong jangan bertanya saya tentang cinta, karena saya pun tengah merindukannya. Saya hanya ingin bertanya tentang yang disebut “kumat”. Bukankah kumat adalah representasi dari penyakit, sesuatu yang najis, jijik, negatif dan profane? Saya tidak mengatakan saya tidak pantas menerima kata-kata itu. Saya hanya tak mengerti bagaimana kata-kata itu muncul dari ruang imajinasi historis Mbak. Kata-kata memang tidak memiliki makna, manusia-lah yang memberinya makna. Ia bisa menjadi entitas yang hidup. Cinta tidak untuk diperdebatkan apalagi didistorsi maknanya sebagai penyakit yang “kumat”.

Kita bicara apa yang terjadi, bukan apa yang seharusnya terjadi.


***


Pada kenyataan, romantika itu tetap hadir dan bukan kumat. Dengan intensitas yang ajeg ia seperti Ikarus. Ikarus tidak pernah menjadi sia-sia. Ia mengilhami, bagaimana manusia terbang bebas setinggi angkasa, meskipun ia jatuh. Ia sempat bebas.


Setidaknya untuk sementara.



Ma'had Ali bi Abi Thalib

28 Agustus 2009





10 Agustus 2009

Trauma Sejarah


Kalau ditanya “apa makna binder ini bagiku?”. Akan kujawab: “banyak, dan sangat dalam...”


Kau tahu Be? Hari-hari ini aku murung. Apalagi kalau bukan media penyebabnya? Teroris, Islam radikal, Islam Fundamental, Islam garis keras, Islam tekstual, Islam kontekstual, Islam wahabi, Islam Islam literal, Islam modernis, Islam tradisional, Islam pancasila, atau kalau kau masih banyak istilah, tambahkan saja Be. Atau kalau kau mau, kita bisa membuat Islam pembinaan KSAI, Islam internal KSAI, Islam mentoring, Insya-Allah Islam (JAI) atau apapun itu. Dan kita bisa saling membid’ahkan dan menyesatkan, karena aku termasuk Islam PUKAT (At-ta'lim lil-mustawa ats-tsaalits). Keren bukan Be? Ada bahasa Arabnya. Tidak seperti nama kelompokmu: Islam mentoring/KIP. Apa itu? Sesat! Karena kucari di kamus Arab nama kelompokmu itu tak ada. Istighfar Be!!


Aku bercanda Be. Aku tak tahu, sejak kapan dikotomisasi ini terjadi. Islam yang setahuku satu, bisa berkembangbiak dengan berbagai istilah dan parahnya, setiap bagian dipertentangkan seolah tidak akur dalam konteks ke-Indonesiaan. “Islam dalam konteks ke-Indonesiaan”, istilah apalagi ini?


Kalau kita kembali ke sejarah kita, ini metode yang dipakai penjajah dalam meredam perjuangan ulama-ulama kita. Kalau Islam bersatu, maka mereka akan kesulitan menancapkan hegemoninya di negeri ini. Maka dibuatlah politik belah bambu itu, atau devide et impera dalam bahasamu. Dipakailah Islam abangan (sebenarnya ini dari bahasa Arab aba’an: menolak), atau lebih vulgarnya menolak syariat Islam seperti sholat, puasa. Jadi Islam abangan adalah orang awam/KTP dalam istilah modern kita. Lalu ada Islam priyayi. Kemudian Islam abangan dibenturkan dengan golongan Islam yang melawan penjajah seperti Imam Bonjol, Soedirman, Diponegoro dan banyak ulama yang tersebar di seluruh nusantara ini. Penjajah menyebutnya Islam Wahabi, nah di sinilah kita banyak berhutang kepada Muhammad bin Abdul Wahhab yang salah satu ajarannya menolak imperialism asing. Maka jangan heran ketika dalam sejarah, NU, Muhammadiyah, Persis atau semua yang tidak mau tunduk kepada penjajah kelak oleh penjajah disebut golongan wahabi. Kau jauh lebih paham daripada aku Be!

***

Kullu syay’in idza balagha haddahu in’akasa ‘alaa dhiddihi..

Sesuatu jika melampaui batas, akan memantul ke arah sebaliknya (Al-Ghazali)


***

Kata-kata Al-Ghazali di atas dirasakan benar oleh dunia Barat. Dahulu mereka hidup dalam kungkungan tahayul, mahkamah inkuisisi, algojo Tuhan, khurafat, doktrin gereja, dan tak ada kebebasan berpikir. Ilmu pengetahuan berada dalam wilayah teroris gereja (Galileo, Copernikus faham benar tentang ini). Densus Vatikan lebih tepatnya. Barat bosan dengan superioritas gereja, jadilah mereka sekuler seperti ini. Mereka beramai-ramai lari dari gereja. Mereka pernah berada pada satu sisi ekstrim di bawah ketiak gereja, dan berbalik ke sisi ekstrim lainnya dan muak dengan agama. Persis apa yang dikatakan Ghazali, pemantulan (refleksi).


Salah satu diferensiasinya dalam masalah feminis. Dahulu wanita dianggap nenek sihir, najis, berdosa menyesatkan adam, dicap sebagai laki-laki yang tak sempurna. Mereka terkekang dalam doktrin atas nama agama. Lalu apa yang terjadi kini? Mereka menjadi bebas sebebas-bebasnya. Atas nama kesetaraan gender, feminisme (liberal, marxis,radikal). Sekali lagi Al-Ghazali benar. Tokoh kebanggaan Al-attas ini memang hebat Be. Hidup Ghazalian!!


***

Peradaban Barat atau peradaban Kristen memang murni sains (scientific). Peradaban mereka adalah hasil pemikiran. Ilmuwan-ilmuwan mereka berkumpul, dan merumuskan masa depan mereka. Peradaban yang bersumber dari ramuan ajaran Kristen, filsafat Yunanai, Romawi kemudian diblender. Konsili Nicea mungkin sebuah awal. Wallahu a’lam. Tapi Islam tidak, ia setengah sains (quasi-scientific). Di sinilah iman kita bekerja. Berperan. Ketika itu memang dari Nabi, lewat sahabat, dan sampai ke kita. Itulah Islam.


Agama Kristen berevolusi dan melalui banyak reformasi. Aku tak faham. Hanya saja, itulah sejarahnya mengapa mereka memiliki istilah Kristen Fundamentalis, Kristen ortodoks, Kristen tekstual, Kristen radikal. Dulu, 2003 ketika seorang Gay bernama Robinson menjadi Uskup, kemudian kalangan Kristen yang menolak dicap konservatif dan yang membela dicap liberal.


Sekarang aku masih murung ketika di depan televisi. Istilah-istilah yang muncul hasil trauma sejarah agama Kristen kini diobral. Istilah-istilah itu lalu dilemparkan ke dunia Islam. Penggunaannya-pun serampangan..


***

Dari binder inilah aku menulis pikiran-pikiranku. Pelajaran bahasa Arab-ku. Membentuk perasaan-perasaanku. Aku tak punya trauma sejarah dengan benda ini. Lalu tiba-tiba seseorang merusak dan mengacaukannya.


Hutan Bunder

Rihlah Mentoring

9 Agustus 2009



6 Agustus 2009

Hermeneutika


Di tepi sungai Piedra aku duduk dan tersedu. Ada sebuah legenda bahwa semua benda yang jatuh ke dalam air sungai ini –dedaunan, serangga, bulu burung- akan berubah menjadi bebatuan yang membentuk dasar sungai. Jika saja aku bisa mencabut hatiku dan melemparkannya ke dalam arus, maka pedih dan rinduku akan berakhir dan aku bisa akhirnya melupakan semua. (Paulo Coelho)


Puitis memang. Agak feminim. Kita tidak bisa menafsirkannya begitu saja rangkaian pembuka novel spiritual nasrani di atas. Bagaimana maksud penulisnya? Untuk menafsirkannya, kita harus mengetahui keadaan hati pelakunya, kondisi lingkungan dia tinggal, kejadian apa yang baru dialaminya (putus cinta misalnya), kondisi psikologi, bahasa yang digunakan. Nah, di sinilah hermeneutika diterapkan.


Kita mungkin jadi mengetahui, bagaimana “cara” membaca novel Hamka “Tenggelamnya Kapal Van Der wijk” yang banyak menyinggung –kalau tidak mau dikatakan menentang- hukum adat minangkabau. Karena memang Hamka lahir dan bersentuhan langsung dengan adat Minangkabau. Selain itu, kenyataan bahwa ayahnya yang poligami menceraikan ibunya secara sepihak, nampaknya juga sebagai faktor mengapa beliau tidak berpoligami hingga akhir hayatnya. Beliau tahu benar dari ibunya, bagaimana perasaan hati seorang wanita yang terluka. Lingkungan Ibnu Taimiyah yang tengah berkecamuk perang, nampaknya juga akan mempengaruhi pandangan-pandangan beliau tentang jihad.


Hermeneutika pada dasarnya adalah metode menafsirkan simbol yang berupa teks atau yang diperlakukan sebagai teks untuk dicari artinya dan maknanya. Hermeneutika berasal dari Hermes, seorang dewa Yunani Kuno yang bertugas menyampaikan berita dari para dewa di langit kepada manusia.


Hermeneutika kemudian berkembang pesat dan dipakai sebagai metode tafsir bible (yang pada awalnya sangat dogmatis di bawah cengkraman gereja) karena dari awal, bible memang bermasalah. Banyak pertentangan, banyak yang tidak sejalan dengan ilmu pengetahuan, karena bible memang ditulis seseorang yang tentu saja dipengaruhi hawa nafsunya, kepentingan politik, lingkungan hidupnya, selera makan, selera pakaian.. nah di sinilah metode tafsir ini diterapkan. Untuk mengetahui maksudnya, maka harus faham benar apa maksud penulis dan bagaimana membawa pesan itu di konteks atau zaman ini. Jadi, jangan kaget, kalau kemudian dalam tradisi Kristen, banyak konsepsi-konsepsi yang berubah. Babi menjadi halal, khamr dibolehkan, dst. Tanpa tafsir ini, mungkin banyak wanita Kristen yang –nyuwun sewu- jadi pelacur, karena dalam kitab mereka ada ayat yang vulgar untuk hal-hal semacam ini.


"The beginning of the word of the Lord by Hosea. And the Lord said to Hosea, Go, take unto thee a wife of whoredoms and children of whoredoms: for the land hath committed great whoredom, departing from the Lord. (Hosea 1: 2)

"Ketika Tuhan mulai berbicara dengan perantaraan Hosea, berfirmanlah Ia kepada Hosea: "Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal, karena negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi Tuhan." (Hosea 1: 2).

Na'udzubillah..


Tapi tidak untuk Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah Kalamullah. Al-Qur’an bukanlah text yang biasa kita temui. Jadi bukan reading text, tapi recite from memory (Syamsudin arif-diabolisme). Qira'ahnya mutawatir dari shahabat. Tiap kata dan maknanya dari Allah. Al-Qur’an bukan kreasi budaya Arab meskipun turun di tanah Arab. Al Qur’an tidak hanya untuk bangsa arab (universal). Metode tafsir hermeneutika tidak cocok untuk Al-Qur’an. Sebagai contoh, mengapa Khamr diharamkan? Oooo, ternyata Arab dahulu cuacanya panas. sehingga oleh nabi diharamkan. Sedangkan di Eropa dingin, sehingga khamr bisa menghangatkan badan dan menyehatkan, Jadi sekarang, khamr jadi halal, meskipun mabuk-mabuk dikit. Nah, disinilah bahanyanya. Ia akan menghancurkan hukum-hukum syariat yang telah mapan.


Pisau hermeneutika memang bermanfaat namun juga berbahaya. Di tangan yang salah, ia akan melukai dan merusak…Wallahu a’lam


Di tengah pergumulan teks dan konteks.

Antara sikapnya yang angkuh dan

tatapannya yang lembut.

Ah, nampaknya hermeneutika tidak cocok untuk

menafsirkan perasaan hati seseorang.


Ma'had Ali, 10 Juni 2009

10 Juli 2009

Pemuda itu Tidak Butuh Kata "maaf"

...Ini bukan soal cinta lama, bahkan tak pernah berasal dari kebencian. Ia menggerakkan kembali sesuatu yang diam, sayu, -dan pasti-…

Harapan pemuda itu sederhana, sama sederhananya ketika Jeffrey Amherst -Jenderal Angkatan Darat kerajaan Inggris- untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya di pesisir amerika. ”Saya ingin, kita bersama dengan damai.”, kata sang ketua suku Indian-Pontiac kepada sang Jenderal. Ia tidak ingin kaumnya menderita dan hidup aman. Itu saja. Ada harapan mulia yang terbaca dari sorot matanya. Namun malang, ia dan kaumnya disakiti. Ada pengkhianatan dari sang Jenderal.

****

Pertarungan hebat kini terjadi dalam diri sang pemuda. ”Cinta mungkin memang ditakdirkan asing untukmu, namun tidak untukku!!” Gumamnya menirukan laki-laki berkaca-mata dan ber-jeans itu. ”Bagimu, cinta mungkin sangat profane, namun aku selalu menganggapnya sakral dan suci”. Setidaknya, itu anggapannya sejak dulu. Ada idealisme yang ingin dibangun, sekaligus diruntuhkannya.

Laki-laki itu tidak ingin terlihat lemah. Ia berusaha berdiri tegak. Namun ia tidak mampu menyembunyikan perasaan-perasaannya. Ia gontai. Pikirannya kacau. Sesekali ditatapnya langit malam yang kian gelap. Jalan ”malam” cintanya terasa panjang. Ia terkadang ingin mengakhiri saja. Ia ingin menghentikan langkah-langkahnya. Sudah terlalu banyak air mata yang jatuh karena cinta. Dan nampaknya, ia tetap akan terus mengalir menuju sungai keputus-asaan dan ketidak-berdayaan.

****

”Ke manakah kau akan pergi?” tanya sang pemuda kepada si gadis beberapa tahun yang lalu. ”Terserah aku! Namun aku tak akan jauh darimu.” jawabnya. ”Kau mungkin akan bersamaku, tapi tidak dengan idealism dan pikiranku.”

Ditatapnya tulisan percakapan itu dari buku hariannya. Pemuda itu tidak habis pikir. Ia menulis jawaban pada buku hariannya ”kau tidak bercanda ya??!”. Namun tidak ada jawaban. Begitu sunyi. Ada keterasingan dalam jiwanya. Ada yang salah dalam cintanya. Ia seharusnya sudah tidak mencintainya. Sesederhana itu. Bukankah cinta adalah kesesuaian chemistry yang unik yang misterius. Bukankah sang gadis sudah kehilangan pikiran dan idealisme-nya yang dulu? Lalu, siapa gadis yang sekarang di depannya itu?

****

Sang pemuda membaca catatan hariannya lagi:

Hati Arkoun bergetar, ia menangis. Luar biasa. "Cendekiawan" itu mampu menitikkan air matanya. Sang mufti berhasil menyentuh hatinya. Bukankah dalam hal kemanusiaan kita adalah "universal"?. Tidakkah kita mampu berdialog sebentar sebelum kita tergesa menjatuhkan vonis "kafir"? Ada keikhlasan luar biasa dalam diri sang mufti. Arkoun benar-benar menangis. Cinta adalah universal. Dan inilah yang mampu membuatnya masih bertahan hidup.

****



Mengenang Buya Hamka

Ma'had Ali bin Abi Thalib
Gamping, Juli 2009


11 Juni 2009

Ilusi Negara Islam?


Pak ustadz : "Ndang nikah Rif, ndang cepet dewasa"

Arif : "Masih pengen dolan Mas"
Pak ustadz : "Yo dolan, tapi ojo jajan. Mengko ndak pilek"
Arif : "Dolanku nang ma'had kok mas. hehe"
Pak ustadz : "Wah, dolan wae nang ma'had. Ngajimu malah neng Liberal yo?"

Memang aneh. Beberapa lalu saya benar-benar menghadiri "kajian"nya Abdul Munir Mulkhan. Tapi tidak benar-benar ngaji, sekedar iseng mengisi waktu luang. (pembenaran!). Dalam diskusi itulah pertama kali saya mendengar buku "Ilusi Negara Islam".

Mudah di tebak, waktu itu saya berpikir, paling-paling buku itu hanya menertawakan beberapa organisasi Islam semisal Al-Ikhwanul Al-Muslimun, HTI, FPI dan MMI. Atau mengadu-domba umat Islam yang ingin menerapkan syariat Islam di negara Indonesia ini. Dan memang, dengan cukup keji, buku tersebut seakan-akan mewakili NU-Muhammadiyah yang sangat risau dengan masuknya ideologi transnasional. Kita lihat:

"....Gerakan garis keras transnasional dan kaki tangannya di Indonesia sebenarnya telah lama melakukan infiltrasi ke Muhammadiyah. Dalam Muktamar Muhammadiyah pada bulan Juli 2005 di Malang, para agen kelompok-kelompok garis keras, termasuk kader-kader PKS dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), mendominasi banyak forum dan berhasil memilih beberapa simpatisan gerakan garis keras menjadi ketua PP Muhammadiyah. Namun demikian, baru setelah Pro. Dr. Abdul Munir Mulkhan mudik ke desa Sendang Ayu, Lampung, masalah infiltrasi ini menjadi kontroversi besar dan terbuka sampai tingkat internasional......"Ilusi Negara Islam : Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia – halaman 23

"...... tidak tertutup kemungkinan jika K.H Ahmad Dahlan dapat bangkit dari liang kuburnya, akan terseok dan menangis meratapi kondisi para kader dan anggota Muhammadiyah yang sedang direbut oleh kelompok-kelompok garis keras...." (lihat: hal. 24)

Buku ini memang seakan dibuat mewakili NU-Muhammadiyah. Hal itu terlihat karena buku ini melibatkan sejumlah tokoh Islam terkemuka di Indonesia seperti, KH Ahmad Safii Maarif (mantan ketua Muhammadyah), KH Mustofa Bisri dan Azyumarrdi Azra dan Romo Franz Magnis Suseno sebagai salah satu penasihat LibForAll.

Sebenarnya masih banyak ungkapan-ungkapan berbahaya dalam buku setebal 325 halaman itu. Mereka ketakutan dan mempermasalahkan ideologi-ideologi islam transnasional (dlm buku itu disebut: wahabisme, "virus tarbiyah" (hal.24), wahabi-ikhwanul muslimin, Islam garis keras). Namun mereka tidak mempermasalahkan ekspansi ideologi transnasional destruktif semisal marxis, liberalisme, sekulerisme, hedonisme, esensialisme, sophisme, seksisme, pluralisme pornoisme dst...

di samping itu, banyak juga yang harus dibenahi intern umat Islam. Di antara gerakan-gerakan Islam ternyata banyak yang malah tidak akur. Ada yang tidak mau menjawab salam karena beda jilbab. Ada yang tidak mau menjawab salam karena beda tempat ngajinya, atau mesjidnya berbeda. Ada yang bilang, "Islam antum kurang 30%. Karena ngajinya belum dengan Ustadz-ku/Murabbi-ku".
Saya takut suatu saat nanti, ada larangan nikah antar-Harakah (bayangkan!!).

Ada pesan bagus dari Dr. Adian Husaini ketika berkunjung ke PP Muhammadiyah yang kurang lebih seperti ini: "Temen-temen HTI tidak perlu anti dengan buku-buku Hasan Al-Banna, Ushul Isrin-nya, atau pemikiran-pemikiran Ibnu Taimiyah dst. Begitu juga temen2 tarbiyah, tidak perlu alergi membaca Nizham Al-Islam."

Ada pengalaman menarik ketika saya membaca buku "Selamatkan Keluarga Muhammadiyah". Pada satu sisi, secara politis penulis buku itu takut munculnya ideologi Muhammadiyah-PKS, Muhammadiyah-HTI, Muhammadiyah-Salafi. Namun di sisi lain, warga Muhammadiyah dianjurkan membaca kitab-kitab karangan Sayyid Qutb, Yusuf Al-Qardhawi, ibnu Taimiyah.

Toh, setiap organisasi memiliki ijtihadnya masing-masing dalam berda'wah. Ada yang memilih dengan jalur parlemen, ada yang dengan jihad, ada yang jalur kultural. Ada yang dengan ilmu, dengan plus minus masing-masing.
wallahu a'lam

dokumentasi pemikiran,
kelak saya akan tersenyum membacanya
suatu saat nanti

ma'had ali UMY, 11 juni 2009

29 April 2009

Selamat Jalan, Ustadz Ibnu Juraim!


Namamu mengikat lidahku
Bayanganmu dalam pandanganku
Kenanganmu dalam hatiku
Ke mana harus kukirim kata-kata yang aku bingkai ini?
(Rumi)

Ustadz Ibnu Juraim telah tiada. Banyak orang merasa kehilangan, termasuk saya. Padahal saya belum pernah melihat sosoknya, apalagi mengenalnya. Nampaknya, saya harus rajin-rajin mencari karya-karyanya. Dari beliaulah, kata Ust. Fathurrahman, sanad kita sampai kepada K.H. Ahmad Dahlan. Lalu dari K.H. Ahmad Dahlan, kita cari sanad ke Rasulullah. Maka, utuhlah "bangunan" ini.

"Allahumma, inna ustadzuna Suprapto Ibnu Juraimi, fi dzimmatika wa habli jiwarika, faqihi fitnatal qabri wa-adzabannar, wa anta ahlul wafa-i wal haq, faghfirlahu warhamhu, innaka antal ghafurur rahim"

MAKNA BERMUHAMMADIYAH*)
KH. S. Ibnu Juraimi



Alhamdulillah, ketika saya pertama kali memangku tugas selaku Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, sekitar dua tahun yang lalu, telah dapat dilaksanakan ‘proyek’ Rihlah Dakwah tahap I yang ketika itu dimulai dari Magelang, Temanggung, Banjarnegara, Purwokerto dan Tegal.
Program ini merupakan suatu terobosan dari Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, yaitu model kajian selama satu hari satu malam, menggunakan pendekatan spiritual dan intelektual. Selama 2 tahun itu, sekitar 215 PDM sudah sempat dikunjungi untuk melaksanakan pengajian ini. Bahkan ada yang sudah sampai 3 kali, karena mereka minta dilaksanakan lagi.

Tema yang diangkat dalam kajian satu hari satu malam ini adalah “Meningkatkan Kualitas Kepribadian Pimpinan agar Berakidah yang Benar, Memiliki Kemampuan Berpikir Bayani, Burhani dan Irfani, serta Dapat Menjadi Uswah Hasanah”. Sebuah tema yang luar biasa. Kalau dilaksanakan dengan waktu hanya kira-kira 1,5 jam, harapannya tidak
mungkin akan tercapai. Sebab, pengajian model ini memerlukan proses. Dan, proses yang paling tepat itu kalau pengajian ini diprogram mulai dari pukul 4 sore sampai pukul 6 pagi esok hari. Pengajian ini dulu sudah pernah dicoba oleh PDM Temanggung dengan sasaran peserta para pimpinan. Para pimpinan Muhammadiyah ini dituntut menjadi pribadi yang berkualitas, sanggup berfikir bayani, burhani dan irfani.

Materi kajian dibagi dua. Karena menyangkut pimpinan Muhammadiyah, yang saya angkat pertama kali adalah tentang makna bermuhammadiyah. Jangan-jangan setelah sekian tahun bermuhammadiyah, ternyata kita tidak tahu apa sebenarnya bermuhammadiyah itu. Kira-kira setahun yang lalu, PWM DIY mengadakan kegiatan pembinaan Daerah. Saya mendapat tugas untuk melakukan Konsolidasi Ideologi. Saya angkat tema “Bagaimana seharusnya kita bermuhammadiyah”. Ada lima hal pokok di dalam kita bermuhammadiyah. Nampaknya, acara itu dianggap menarik. Sehingga pada tiga tempat yang menjadi tugas saya dalam Konsolidasi Ideologi ini, saya mengangkat tema ini. Setelah itu, insya Allah, baru kita bisa memposisikan diri sebagai pimpinan Muhammadiyah, dan apa yang perlu dilakukan sebagai
pimpinan Muhammadiyah.

Dari pengamatan, saya menjumpai di beberapa Daerah/PDM, ada Pimpinan Daerah yang diangkat menjadi pimpinan langsung dari Pimpinan Ranting, bahkan menduduki jabatan sebagai Ketua PDM. Padahal dia tidak tahu seluk beluk Muhammadiyah, tidak kenal apa itu Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, tidak tahu apa itu MKCH, apalagi Kepribadian Muhammadiyah. Hanya karena kebetulan dia pinter bicara, ketika diselenggarakan Musyawarah Daerah, ia kelihatan menonjol, lalu terpilih menjadi ketua PDM.

Di sisi lain, bisa kita saksikan juga bahwa banyak orang tertarik dengan Muhammadiyah. Rupanya dengan aktif di Muhammadiyah itu bisa menjadi jembatan untuk, misalnya, menjadi anggota Dewan (wakil rakyat).

Konon, saya tidak tahu pasti, di Jawa Tengah, kini sedang ramai-ramainya orang Muhammadiyah berupaya untuk bisa menjadi calon anggota Dewan. Padahal tidak semua dari mereka itu bisa terangkat menjadi anggota Dewan, sehingga kemudian terjadi masalah. Di antara mereka sendiri saling padu, konflik antar sesama teman sendiri.
Memperhatikan hal yang demikian, maka kita perlu faham bagaimana sebenarnya bermuhammadiyah itu.

Makna Bermuhammadiyah: Pertama, Bermuhammadiyah adalah Berislam

Makna bermuhammadiyah yang pertama dan paling utama serta sangat mendasar adalah berislam. Bagaimana maknanya berislam itu? Mengungkap hal ini, saya akan membuka lembaran sejarah yang sudah amat jarang diketahui oleh para pimpinan Muhammadiyah. Alhamdulillah, saya beruntung, mendapat rahmat ketika saya bisa nginthil, mengikuti guru saya, seorang ulama besar di Jogjakarta, Bapak K.H.R. Hadjid. Beliau dijuluki sebagai Asyaddul Muhammadiyah, Jago Tua Muhammadiyah, sekretaris Badan Penasehat PP Muhammadiyah. Gara-gara saya ditendang dari IAIN, saya justru sempat berguru kepada beliau selama tidak kurang dari 10 tahun.

Saya sempat mendengar kisah yang dialami beliau. Beliau termasuk murid termuda K.H. Ahmad Dahlan. Nampaknya, beliau satu-satunya murid yang mencatat pelajaran Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Kami sempat beberapa kali menerbitkan Buku Pelajaran Kyai Ahmad Dahlan itu dalam bentuk stensilan. Terakhir, diterbitkan oleh Depag Jawa Tengah, dibagi secara
gratis untuk PDM-PDM se Jateng. Buku itu adalah Himpunan Ayat-ayat Alquran yang Difahami oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan.
Buku itu berisi tentang bagaimana cara memahami, bagaimana cara mengajarkan, dan bagaimana pula cara mengamalkannya. Semua itu terungkap dalam Buku Pelajarannya Kyai Haji Ahmad Dahlan yang ditulis oleh KHR Hadjid. Generasi sekarang ini barangkali tidak banyak mengenalnya. Yang dikenal mungkin malah putra tertuanya yang juga
terkenal, Bapak R.H. Haiban Hadjid.

Dua pertanyaan Kyai Ahmad Dahlan; Muhammadiyah Urung Menjadi Partai Politik

Tahun 1921, ada Sidang Hoofdbestuur Muhammadiyah (PP Muhammadiyah). Di situ para assabiqunal awwalun Muhammadiyah berkumpul, para pendiri dan generasi pertama pimpinan dan aktivis Muhammadiyah. Yang menarik, dalam pertemuan itu ada tokoh yang tidak pernah kita kenal sebagai orang atau aktivis Muhammadiyah. Yang menarik adalah beliau bisa tampil meyakinkan dalam forum para pembesar, pimpinan Muhammadiyah generasi pertama berkumpul. Orang itu adalah Haji Agus Salim.

Haji Agus Salim punya gagasan untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kalau pada masa Orde Baru Muhammadiyah disebut orsospol, dan beberapa pimpinan Muhammadiyah menjadi anggota Dewan. Ternyata, menjelang akhir hayat Kiyai Haji Ahmad Dahlan, sudah muncul juga “ambisi” menjadikan Muhammadiyah sebagai parpol. Sidang dipimpin oleh Kiyai Ahmad Dahlan. Diketahui, Haji Agus Salim adalah seorang jurnalis, politisi dan diplomat yang hebat. Tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam berdebat. Dalam sidang Hoofdbestuur, argumentasi yang disampaikan Haji Agus Salim membuat seluruh yang hadir terpukau, terkesima dan setuju untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik. Kyai Dahlan, karena menjadi pimpinan sidang, tidak berpendapat. Setelah Kyai Dahlan melihat bahwa nampaknya yang hadir sepakat dengan gagasan Haji Agus Salim, Kyai Haji Ahmad Dahlan yang memimpin sidang dengan duduk, lalu berdiri sambil memukul meja. Saya tidak sempat bertanya kepada guru saya, Kiyai Hadjid, apakah Kyai Dahlan memukul mejanya keras apa tidak.

Kyai Ahmad Dahlan mengajukan dua pertanyaan yang sangat sederhana dan sangat mudah. Dan kalau dijawab, sebenarnya juga gampang. Pertama, apa saudara-saudara tahu betul apa agama Islam itu? Kedua, apa saudara berani beragama Islam? Tidak ada satu pun dari yang hadir yang sanggup menjawab pertanyaan itu, termasuk Haji Agus Salim sendiri. Bukannya tidak bisa, sebab mana mungkin ditanya soal Islam begitu saja tidak tahu. Tapi, ketika ditanya “Beranikah kamu beragama Islam?”. Mereka tahu persis yang ditanyakan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu. Pak Hadjid muda, bercerita kepada saya, “Bukan main tulusnya pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu”. Sebenarnya pertanyaan itu sederhana, tapi tidak ada yang sanggup menjawab. Akhirnya gagasan Haji Agus Salim tidak kesampaian. Muhammadiyah urung jadi partai politik.


Dua pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan itu, sekarang baru terjawab satu. Yaitu pada waktu Muktamar Muhammadiyah ke-40 di Surabaya tahun 1978. Jawaban itu berupa keputusan tentang Ideologi Islam, Pokok-Pokok Pikiran tentang Dienul Islam, yang konsepnya dari Bapak H. Djindar Tamimy. Jadi, setelah kira-kira 56 tahun baru terjawab satu pertanyaan. Sedangkan pertanyaan yang kedua, sampai sekarang ini belum ada yang berani menjawab. Tahun 1960, kebetulan saya masih sering mendengar, ada ungkapan Kyai Dahlan yang menarik, “Durung Islam temenan, nek durung wani mbeset kuliti dewe” (Belum Islam sungguh-sungguh, kalau belum berani mengelupas kulitnya sendiri).

Yang akan saya ungkap di sini, kaitannya dengan pertanyaan Kiyai Haji Ahmad Dahlan tadi, apa Islam itu, bisa dibuka pada Pelajaran Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagi KHR Hadjid, Kyai Dahlan dalam mengungkap ayat itu menarik sekali. Ayat yang diungkap adalah ayat yang sudah populer. Bahkan menjadi bacaan harian mereka yang membaca doa iftitah shalat menggunakan hadis riwayat Imam Muslim (Wajjahtu wajhiya….).Buku itu mengungkap dan mengajarkan bagaimana Islam itu. Ternyata, setelah sekian tahun bermuhammadiyah Kyai Dahlan baru sanggup mengaplikasikan dan merealisir ajaran Alquran tidak lebih dari 50 ayat. Dua ayat diantaranya ada dalam surat Al An’am. Qul inna shalati wa-nusuqi wa mahyaaya, wa mamaati lillaahi rabbil alamin. Laa syarikalah wa bidzalika umirtu.

Dalam salah satu kitab tafsir diungkap bahwa ayat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim AS. Kata-kata dalam ayat Alquran yang menyebut aslama-yuslimu-aslim, muncul dari Nabi Ibrahim AS. Jadi, awwalul muslimin itu Ibrahim, sedang wa ana minal muslimin itu Rasulullah Saw. Maka di dalam doa Iftitah yang diucapkan dalam bacaan shalat tadi boleh dipilih antara awwalul muslimin atau wa ana minal muslimin. Qul, katakanlah (Muhammad), inna shalati, sungguh shalatku; wa nusuqi, dan pengorbananku; wa mahyaya, dan kiprah hidupku; wa mamati, dan tujuan matiku; lillah, hanya untuk dan karena Allah; raabil alamin, pengatur alam semesta. Laa syariikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya; wa bidzaalika umirtu, dan dengan itu aku diperintah; wa ana awwalul muslimin, dan aku orang yang pertama, pasrah, setia tunduk kepada Allah Subhanahu wataala. Amin ya rabbal alamin. Itu makna yang populer, kecuali kata nusuq yang saya terjemahkan menjadi pengorbananku. Pada hampir semua terje-mahan, nusuq diartikan ibadah. Mengenai tafsirnya, kebetulan tidak sempat saya catat tapi saya punya kitabnya, nusuq bukan berarti ibadah. Yang berarti ibadah adalah nasaqun. Nusuq artinya menyembelih kurban. Maka saya artikan, nusuqi adalah pengorbananku. Jadi, “shalatku, pengorbananku, hidup matiku, lillahi rabbil alamin”.

Kyai Bakir Sholeh, seorang ulama besar Jogja yang dikenal sebagai kamus berjalan, memaknai dengan liman kana yarju…… “Sungguh, shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku hanya untuk Allah”. Dalam terjemah Miftah Farid masih kelihatan biasa. Tetapi untuk terjemahan ini orang bisa tertegun, “Hanya karena untuk Allah rabbil alamin.” Laa syarikalah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Pengertian ini oleh Kyai R.H. Hadjid, yang telah mendengar pelajarannya langsung dari Kiyai Dahlan dengan terjemahan tafsir “itu tidak untuk selain Allah”. Karena syarikat bermakna sekutu. Sekutu itu apa saja bisa dianggap sekutu. Lalu ayat tadi bermakna apa? “Shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku hanya untuk Allah pengatur alam semesta”. Laa syarikalah, tidak ada sekutu selain Allah. “Aku diperintah untuk hidup dengan model cara yang seperti itu. Tidak untuk maksud-maksud yang lain. Tidak untuk anak istriku. Tidak untuk orang tuaku, juga tidak untuk bangsa dan tanah airku”. Tanah dan air itu kalau jadi satu namanya blethokan. Hidupku tidak untuk itu. Pertanyaannya, lalu untuk apa? “Bela hakmu, perjuangkan hakmu. Membela tanah air adalah sabilillah. Membela tanah air bukan karena kemauan tanah air, tetapi karena Allah”. Di sini lalu maknanya, “berbuat baiklah kamu kepada orang tuamu”. Bedanya dengan ihsan, tidak sekedar karena naluri, atau karena punya naluri berbakti kepada orang tua, tetapi begitu lengkap. Sebab itu karena perintah Allah, dari kata “wa-ahsinuu, …..birrul walidaini”. Jadi jelas sekarang ini. Lalu ditutup dengan “wa ana awwalul muslimin.
O, ini to karepe (maksudnya) Islam itu. Islam, maksudnya, mendidik kita untuk hidup model seperti itu. Tidak pakai tiru-tiru model yang
lain.

Dalam setiap langkah selalu berusaha dan berkarya, tidak bisa yangnamanya hidup kecuali semuanya dalam bentuk kepasrahan, niat yang tulus berbakti kepada Allah, apapun yang dilakukan. Sebagaimana ayat yang populer, wamaa khalaqtul jinna wal-insaan illa liya’buduun. Manusia ini hidup diciptakan oleh Allah, tidak lain, (satu kalimat yang dimulai dengan nafi, yang di belakang ada illa itu, merupakan satu doktrin kepastian) hidup ini hanya untuk beribadah, tidak lain. Maka, semua aktivitas hidup kita harus punya nilai dan nafas ibadah. Di situlah makna hakekat dari Islam.

Dari ayat ini, beliau yang memang orang alim dan orang-orang generasi pertama, bisa menangkap pertanyaan ini, walaupun tidak sanggup menjawab. Maaf, jika orang sudah bicara politik, hampir bisa dipastikan yang dicari hanyalah kursi. Dulu, ketika sama-sama jadi mubaligh, sama-sama aktif, masih bisa. Tapi, ketika sudah sampai pada soal kampanye, jangan tanya. Disitulah letak bahayanya politik kalau tidak disinari oleh Islam. Sehingga, rasa-rasanya, kita ini sepertinya tidak punya panutan, siapa politikus kita yang bisa membawa amanah Islam. Rasanya jauh sekali dengan para pendahulu kita. Seperti Pak Muhammad Natsir, yang kalau mau sidang ke DPR hanya naik becak, tidak mau dijemput mobil.

Bermuhammadiyah adalah berislam. Ungkapan ini memang cukup tandas..Masyarakat/umat Islam ketika itu di dalam berislam sudah bukan main trampilnya. Seperti diungkap dalam sabda Nabi yang bernilai ramalan itu, “Akan datang kepada kamu sekalian, suatu jaman dimana Alquran tidak kekal lagi, Islam tidak tegak lagi kecuali hanya nama. Memang banyak orang mengaku dirinya muslim, tapi perilaku dan tindakannya jauh sekali dari Islam. Masjid-masjidnya makmur, banyak jamaah, tapi sepi dari kebaikan. Orang-orang yang paling dalam ilmu agamanya menjadi orang yang paling jahat di kolong langit. Dari mereka keluar fitnah”. Tetapi fitnah itu kembali kepada orang-orang tadi. Jika hal ini disebut oleh Rasulullah, ini yang jelas terjadinya sepeninggal Rasululah.

Rupanya, hampir 100 tahun yang lalu, fenomena ini terjadi, yakni di jaman sekitar hidup Kiyai Haji Ahmad Dahlan. Bagaimana Alquran yang punya bobot yang luar biasa, kekuatan dahsyat, lau anzalnya haadzal qur’ana ala jabalin………min khasyatillah (Seandainya kami turunkan Alquran kepada gunung, kamu akan tahu Muhammad, gunung itu akan menolak, tunduk, hancur lumat karena takutnya kepada Allah. Itulah kekuatan dahsyat dari Alquran), tapi tidak diamalkan lagi.

Sekarang ini, berapa juta kali Alquran dibaca setiap hari. Ratusan karya tafsir yang menjelaskan dari kata maupun kalimat untuk
menjelaskan ayat-ayat Alquran, berapa pula diangkat di dalam seminar, simposium, diskusi, namun tetap juga sulit untuk mendapatkan pembaca Alquran itu yang meneteskan air mata. Sudah susah kita menemui orang sesenggukan membaca Alquran. Dan amat sukar kita dapati orang yang terisak-isak karena mendengarkan peringatan ayat-ayat Alquran.

Tidak ada orang yang tersungkur karena mendengar ayat-ayat Alquran, kecuali tersungkurnya karena sujud tilawah itu saja. Masih mending, kita masih mau setia mengikuti sunnah Nabi. Setiap Jum’at Shubuh, Nabi selalu membaca surat As-Sajdah di rakaat pertama, dan surat Al-Insan di rakaat kedua. Yang seperti ini sekarang di Jogja hampir tidak ada. Kita perlu mengelus dada (prihatin) melihat hal ini. Dibaca saja tidak apalagi diamalkan.

Begitu pula, Islam hanya tinggal namanya. Secara minoritas, orang Indonesia, khususnya orang Jawa, Islamnya cuma dalam tiga hal.
Berislam ketika tetak (khitan), ketika menikah, dan saat prosesi kematiannya. Kalau sudah ditetaki (dikhitan) sudah marem. Anakku wis
diislami (anakku sudah diislami), begitu batinnya. Kemudian kalau mau menikah, mereka sudah mantap mengundang Pak Naib. Dan ketika meninggal mengundang ahli tahlil. Dengan ketiga hal itu, sudah dianggap lengkap Islamnya.

Anehnya, diantara orang-orang yang beragamanya hanya tiga kali seumur hidup itu, malah ada yang diangkat menjadi amirul haj Indonesia. Ini sungguh-sungguh pernah terjadi. Tidak hanya cara berislamnya yang merusak tatanan Islam yang sebenarnya, bahkan dia juga termasuk perusak dan pemecah belah ummat Islam. Sampai seperti ini yang terjadi di Indonesia yang memang, katakanlah, sedikit atau banyak bersifat gado-gado. Ketika belum ada agama yang masuk, orang Indonesia masih primitif, membakar kemenyan menjadi kebiasaan. Ketika datang ajaran Hindu, diterima. Lalu ketika datang ajaran Budha, juga diterima, datang Islam
juga diterima, dan terakhir, Kristen juga diterima. Semuanya bergabung menjadi satu, Pancasila.

Inilah yang kita lihat di sekitar kita, wajah keberagamaan umat Islam. Masih lumayan, masih ada sekelompok (besar) orang, yang beranggapan kalau sudah berhaji itu sudah lengkap Islamnya. Hal ini bisa dilihat kalau, misalnya, ada satu orang berangkat haji, rombongan bis yang mengantar bisa sampai tujuh buah, disebabkan oleh penghormatan kepada orang yang mau berangkat haji yang demikian besarnya. Bahkan ketika mengantar sampai di Bandara pun menangisnya bisa sampai sesenggukan.

Memang bagus dan elok bisa pergi berhaji. Tapi dengan beribadah haji itu belum tuntas kewajibannya sebagai muslim. Sebenarnya ibadah haji masih dalam tataran pondasi. Buniyal islamu ala khomsin…. Islam itu dibangun di atas lima perkara, yang kita kenal dengan rukun Islam. Lima perkara itu adalah syahadat, shalat, puasa, zakat, dan berhaji, itu baru pondasi. Untuk membangun Keluarga Sakinah memang harus lima perkara itu dulu yang ditata. Sebab, ada orang yang berhaji berkali-kali, tapi ternyata keluarganya tidak juga kunjung menjadi keluarga sakinah.

Nah, ini merupakan catatan penting untuk dakwah Muhammadiyah, bagaimana umat ini dikenalkan dengan berislam yang sebenarnya. Saya tidak menyinggung lebih jauh lagi apa kemudian pedomannya, pelatihannya, dan sebagainya, bukan sekarang saatnya untuk mengungkap masalah ini. Kita bermuhammadiyah yang paling mendasar adalah berislam. Itulah yang dituntutkan kepada kita. Bagaimana kita punya sikap hidup setia dan pasrah dengan tatanan aturan hidup Islam. Termasuk yang dulu juga pernah diungkap Kyai Haji Ahmad Dahlan, saya kurang tahu persis kalimat itu, hanya mendengar sepintas, “Hidup sepanjang kemauan Islam”.

Inilah semangat muhammadiyyin tempo dulu, bagaimana hidup ini dijalani menurut kemauan Islam. Bukan menurut kemauan adat, bukan pula menurut kemauan nenek moyang ataupun tradisi, tapi menurut kemauan Islam. Ini yang menjadi semboyan para pendahulu kita. Saya hanya sempat mendengar-dengar pada awal tahun 1960. Inilah makna pertama dari bermuhammadiyah itu.

Para pimpinan dan aktivis Muhammadiyah dituntut untuk tahu dan faham apa makna berislam itu. Tahu dan faham, tidak boleh hanya tahu saja. Doa yang dituntunkan dari Alquran, Rabbi zidni ilma war zuqni fahma. Pertama, tentang ilmunya sendiri, kuncinya memang harus tahu. Tapi, tahu saja belum bisa melaksanakan, sehingga diikuti dengan yang kedua, warzuqni fahma, memohon diberikan kefahaman. Dengan faham itu baru ada jalan untuk meraih kebaikan, sebagaimana sabda Nabi man yurudillahu khairan yufaqqihhu fiddin, siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka orang tadi difahamkan agamanya oleh Allah.

Soal tahu ini, dengan hanya sekali mendengar saja orang sudah bisa tahu. Sekali mendengar ceramah sudah bisa tahu. Tetapi untuk bisa faham, tidak cukup dengan sekali mendengar. Maka, Nabi mesti mengulang sesuatu sampai tiga kali. Hal ini kita dapati pada kitab
Riyadush-shalihin. Setiap kali men-datangi suatu kaum Rasulullah mengucapkan salam sampai tiga kali. Sementara, banyak di anatara kita yang malas mengucap salam diulang sampai tiga kali. Malahan mungkin kuatir disebut sebagai orang NU, karena biasanya orang NU itu yang mengamalkan hal ini.

Kedua, Bermuhammadiyah adalah Berdakwah

Sedikit mengenang orang-orang tua kita, mengenang bagaimana semangat mereka dalam “wa-tawashau bil haq”. Ada sebutan yang cukup populer pada waktu itu, yaitu mubaligh cleleng. Cleleng adalah sebutan untuk jangkrik, yang kalau diberi makan daun kecubung ngengkriknya berkurang, tapi kalau diadu walaupun kakinya sudah patah dua-duanya nggak mau mengalah, kalau perlu sampai mati. Nah, mubaligh yang seperti itu disebut mubaligh cleleng.

Termasuk salah satu yang disebut sebagai mubaligh cleleng ini adalah Prof. Abdul Kahar Muzakkir. Ceritanya, beliau ini jarang ketemu dengan mahasiswanya. Ketika suatu kali mahasiswa menemui beliau dengan mengucap salam, “Selamat pagi, Pak!”. Beliau bertanya, “Kamu siapa?” “Saya mahasiswa Bapak”, katanya. “Kembali sana, ucapkan dulu “Assalamu’alaikum”. Suatu kali ada orang bertamu ke rumah beliau. Mengucap salam dengan “kulonuwun“. Berkali-kali diucapkannya salam itu, tidak dijawab, padahal beliau ada di rumah dan tahu kalau ada tamu. Karena berkali-kali salam tidak dibukakan pintu, tamu itu akhirnya bermaksud pergi. Sebelum sampai orang itu pergi, pintu dibuka oleh Prof. Kahar Muzakkir sambil berkata, “Kibir kamu ya?” “Kenapa?” tanya orang itu. Al-kibru umsibunnas wa jawahul–haq. Kibir itu meremehkan orang Islam dan tidak mau memakai aturan Islam. Sudah jelas ada tuntunannya mengucap salam “Assalamu’alaikum” kalau bertamu ke rumah orang koq malah “kulonuwun”. Inilah contohnya mubaligh cleleng.

Menjadi anggota Muhammadiyah itu tidak sekedar hanya menjadi anggota saja. Kalau anda pernah tinggal di sekitar kampung Suronatan, dan kalau masih ingat, ada yang namanya Haji Khamdani. Saya masih sempat kenal orangnya, ketua Cabang Muhammadiyah Ngampilan. Pekerjaannya tukang kayu. Beliau termasuk orang yang telah mendapatkan sentuhan-sentuhan dari Kyai Ahmah Dahlan. Padahal, Pak Khamdani ini tidak termasuk orang terpelajar. Sekolahnya paling hanya sampai sekolah Ongko Loro. Beliau juga tidak termasuk orang kaya. Tetapi karena terkena sentuhan Kyai Ahmad Dahlan, merasa mau bertabligh nggak bisa, mau berdakwah pakai uang juga nggak ada uangnya, lalu beliau mengumpulkan tukang kayu, menyumbang untuk Muhammadiyah lewat
keahliannya sebagai tukang kayu ketika sedang dibangun SR Muhammadiyah I (sekarang SD Muhammadiyah Suronatan). Ini adalah SD Muhammadiyah yang didirikan Kyai Haji Ahmad Dahlan berkat orang-orang yang punya
ghiroh, diantaranya mujahid kayu tersebut. Jadi, apa yang bisa disumbangkan kepada Muhammadiyah, disumbangkannya
sesuai dengan kemampuan masing-masing. Yang bisa bertabligh dengan kemampuan bertablighnya. Sampai-sampai, walaupun ilmu agamanya masih minim, ada mubaligh yang membaca saja pating pletot. Rabbil ’alamin dibaca rabbil ngalamin. Bismillah dibaca semillah. Laa haula walaa quwwata illa billah dibaca walawalabila, nekat untuk bertabligh.

Itulah, karena sentuhan dakwah Kyai Haji Ahmad Dahlan, walaupun cara membacanya belum fasih, tapi berani bertabligh. Mubaligh yang demikian ini sekarang ini memang sering dicibir oleh orang-orang NU. Membaca Quran saja nggak bisa koq berani bertabligh. Oleh Kyai pasti dijawab, “Dari pada kamu, bisa baca Quran tapi nggak berani bertabligh. Inilah wajah Muhammadiyah yang kedua, yaitu bermuhammadiyah itu adalah bertabligh.

Sejarah mengakui bagaimana penampilan anggun dakwah Muhammadiyah. Dosennya Pak Amien Rais di Fisipol UGM, Pak Usman Tampubolon, orang Batak, beliau aktif di Dewan Dakwah Islamiyah (DDI), tinggal diJogjakarta. Disertasinya tentang adat Jawa. Beliau mengorek tentang adat Jawa yang hal itu bisa sangat menyinggung orang-orang Jawa. Promotornya tidak mau, mengembalikannya dan menyuruh Pak Usman Tampubolon untuk merubahnya. Pak Usman tidak mau merubah, “Wong saya sendiri yang menyusun koq disuruh merubah”, kata Pak Usman. Pak Usman berkomentar tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan. Aneh, katanya, dalam sejarah, ketika bangkit gerakan modern di Timur Tengah, dengan tampilnya Syeh Muhammad Abdul Wahab, yang karya paling terkenalnya kitab tauhid, “Al Ushulust-tsalasah”,30) ketika ajarannya diambil, mesti ada perang dan darah yang mengalir. Kuburan-kuburan di tanah Arab yang sudah begitu rupa, oleh Syeh Abdul Wahab diratakan. Maka, yang namanya Syeh Abdul Wahab ini, di Indonesia juga sangat ditakuti. Tentu kita juga ingat perjuangan Imam Bonjol dengan perang Paderinya.

Ternyata Kyai Haji Ahmad Dahlan yang lahir di Kauman, dan bahkan menjadi pegawai Keraton, koq bisa tenang, rukun dan asyik duduk
bersama orang Kraton yang masih mempercayai nenek moyang dengan agama jahiliyahnya. Tidak ada sruduk-srudukan di antara mereka. Hal ini membuat Pak Usman Tampubolon heran. Sosiologi apa yang dimiliki Kyai Haji Ahmad Dahlan. Seandainya Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir dan mendirikan Muhammadiyah di Sumatera Barat, maka Muhammadiyah hanya ada di sana. Keadaan ini menarik. Fenomena apa ini, koq Kyai Haji Ahmad Dahlan tenang–tenang saja, mengapa tidak terjadi benturan.

Pada sisi lain, kita juga menyadari adanya kepercayaan tradisi yang masih melekat di kalangan aktifis Muhammadiyah, terutama soal
kematian. Memang Muhammadiyah telah membersihkan hal-hal bid’ah. Tetapi nampaknya masalah ini sekarang mulai bermunculan lagi.
Dihidupkan lagi tradisi lama. Apalagi Sidang Tanwir di Bali yang lalu membicarakan topik Dakwah Kultural. Orang belum tahu persis koq sudah melangkah lebih lanjut. Jujur saja, dan harus kita akui, bahwa Muhammadiyah yang tadinya cukup anggun, dengan jasa besarnya yang telah ikut mencerdaskan bangsa ini, selama lebih kurang 93 tahun berdakwah, ternyata belum dan tidak sanggup menggoyang kekuatan Nyai Roro Kidul. 93 tahun bukan waktu yang singkat.

Ini merupakan masalah yang serius, sebab kekuatan kaum itu sedemikian besarnya. Mereka punya seragam khusus dan punya pos-pos ribuan banyaknya. Yang kita kaget ketika Pemilu tahun 1999 kemarin, kekuatan mereka seperti itu. Itulah barangkali yang melatar-belakangi Sidang Tanwir membicarakan masalah dakwah kultural. Hampir-hampir Muhammadiyah tidak menyadari tentang adanya budaya-budaya itu. Masalah bagai-mana menari yang Islami, Muhammadiyah tidak bisa menjawab. Kalau saya ada jawaban lain kenapa perlu ada dakwah kultural. Saya lebih cenderung memakai alat yang lain. Apa Kyai Ahmad Dahlan waktu
itu memakai dakwah kultural? Tidak. Yang memakai itu kan Walisongo, Sunan Kalijogo. Lalu, apa rahasianya Kyai Ahmad Dahlan?

Satu keunggulan Muhammadiyah yang tidak dimiliki oleh yang lain, adalah adanya karya amal Muhammadiyah. Kyai Haji Ahmad Dahlan sanggup menampilkan Islam yang bisa dilihat dan dinilai bermanfaat oleh ummat. Tidak tanggung-tanggung, Muhammadiyah telah melahirkan dua presiden, terlepas dari presidennya itu seperti apa. Bung Karno dan Soeharto adalah anak didik Muhammadiyah. Inilah jasa besar Muhammadiyah di bidang pendidikan.

Ketika berada di Boyolali dalam tugas Rihlah Dakwah, di sebuah panti asuhan yang gedungnya berlantai dua, sangat megah, saya diberitahu bahwa yang membangun gedung itu adalah seorang pensiunan dari Jakarta. Ia datang ke Boyolali mencari-cari orang Muhammadiyah. Ia mengakui dulunya lulusan SMP Muhammadiyah Nogosari Boyolali. Setelah lama menjadi pegawai di Jakarta kemudian ia ingat kembali Muhammadiyah. Sementara, kadang-kadang, kita kalau sudah jadi pegawai tidak kober lagi mikir Muhammadiyah, karena sibuk mikirin duit terus. Apalagi kita ini termasuk sebagai pewaris falsafah “sendu” (seneng duit), merasa senang dengan hal itu. Harus secara jujur kita akui bahwa kita memang senang terhadap duit. Nah, pensiunan dari Jakarta tadi punya tabungan dan ingin
menyumbangkannya kepada Muhammadiyah. Semua tukang yang bekerja membangun panti itu ia yang bayar. Inilah salah satu contoh bagaimana pengaruh pendidikan Muhammadiyah.

Kita juga bisa merasakan bagaimana sentuhan-sentuhan darah kita yang memang belum bisa dicerna dan baru sedikit sekali. Kalau kita lihat ke sekretariat PP Muham-madiyah, anggota Muhammadiyah sekarang sudah mencapai jumlah deretan 6 angka, tapi angka pertama baru 8. Artinya, belum ada 1 juta orang, itu pun masih dikurangi lagi dengan yang sudah meninggal. Inilah wajah Muhammadiyah yang kedua, wajah dari Muhammadiyah sebagai Gerakan Dakwah yang perlu dibenahi.

Ketiga, Bermuhammadiyah adalah Berorganisasi

Pemahaman KHA. Dahlan terhadap Alquran surat Ali Imran ayat 104 telah melahirkan pergerakan Muhammadiyah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana ulama pendahulu kita itu bisa menangkap isyarat-isyarat Alquran, sehingga memilih organisasi sebagai alat dakwah. Sebab, sebelum itu, organisasi yang ada sifatnya masih sederhana. SDI atau SI yang muncul sebelumnya karena kebutuhan yang mendesak. SDI muncul untuk mengim-bangi perdagangan Cina. Sedang kelahiran SI tidak lepas dari pengaruh politik. Kita tahu, di dunia politik ada dua rayuan, rayuan surga dan rayuan kursi. Sedang, di Majelis Tabligh yang ada cuma surga saja yang menjadi harapannya.

Berorganisasi, oleh beliau-beliau ini, walaupun saat itu belum ada Majelis Tabligh, tapi di benak para pemimpin kita itu sudah jauh
sekali yang dijangkau untuk nanti bagaimana rencana ke depannya. Mengapa begitu yakin? Sebab tidak mungkin tegaknya Islam, izzul Islam wal muslimin, itu ditangani oleh orang per-orang. Saya tidak tahu persis, penduduk Indonesia saat itu berapa jumlahnya. Saya hanya ingat ada sekitar 77 jutaan penduduk Indonesia di tahun 1960-an. Jadi, pada jaman Kyai Dahlan itu kira-kira ada 30 jutaan penduduk Indonesia, pada saat lahirnya Muhammadiyah.

Yang dihadapi Rasulullah pada jaman beliau, menurut Pak AR, hanya sekitar 700 ribu. Perkiraan ini didasarkan pada perhitungan bahwa saat Haji Wada’ jumlah jama’ah yang hadir ada 140 ribu. Jika setiap orang punya lima anggota keluarga, maka jumlahnya sekitar 700 ribu. Dibulatkan lagi, misalnya, menjadi 1 juta. Ummat yang sekitar 700 ribu sampai 1 juta itu bisa ditangani karena ada figur Nabi Muhammad SAW, ada Abu Bakar, ada Umar bin Khattab, dan lain-lainya. Dan yang kita kenal lainnya, ada sepuluh sahabat Nabi yang dijamin bakal masuk surga sebelum Rasullah meninggal.

Sekarang ini, kita kesulitan menentukan orang-orang yang seperti itu. Kalau toh ada hanya segelintir. Katakanlah, kalau saya membuat contoh tentang uswah hasanah, jujur saja, siapa orang Jogja yang layak menjadi uswah hasanah, kita kesulitan mencarinya. Belum lagi di Temanggung, siapa yang layak menjadi uswatun hasanah. Padahal Muhammadiyah telah berkembang sedemikian luas. Ini baru dari sisi soal uswah hasanah saja.

Ketika Kyai Dahlan menyampaikan pengajian di Pekajangan Pekalongan, ada audien/peserta pengajian itu, yang memper-hatikan betul terhadap Kyai Dahlan. Rupanya orang ini adalah orang alim dan orang saleh. Ia memperhatikan secara seksama wajah Kyai Haji Ahmad Dahlan. Diawasinya ekspresi wajah dan mimik Kyai Haji Ahmad Dahlan. Apalagi Kyai Dahlan waktu itu mengaku sebagai pimpinan Persyarikatan yang didirikan di Jogjakarta. Hanya dengan melihat wajah, orang saleh ini bisa menentukan apakah seseorang itu saleh, jujur, dan sebagainya. Ia tahu hal itu tentang Kyai Haji Ahmad Dahlan, tapi ia merasa tidak puas dengan hanya melihat penampilan Kyai Dahlan waktu itu. Ketika Kyai Haji Ahmad Dahlan pulang ke Jogja orang tadi mengikuti. Sampai di Jogja ia bertanya kepada orang, di masjid mana Kyai Dahlan sholat. Ia tidak bertanya tentang apa, tapi cukup bertanya tentang sholatnya Kyai Haji Ahmad Dahlan. Setengah jam sebelum adzan shubuh, orang itu sudah datang ke masjid, maksudnya mau menunggu jam berapa Kyai Haji Ahmad Dahlan datang. Ia tertegun karena orang yang ditunggunya sudah ada di Masjid itu. Lalu komentarnya, “Pantas kalau Kyai Haji Ahmad Dahlan mengaku sebagai pemimpin Muhammadiyah”. Orang itu tidak lain adalah Buya A.R. Sutan Mansur muda. Beliau adalah
saudara dari Sutan Ismail, seorang mubaligh terkenal di Pekalongan, yang berasal dari negeri Minangkabau.

Lain lagi cerita tentang Pak AR Fahruddin. Di mata saya beliau adalah orang yang paling zuhud di Muhammadiyah, satu-satunya ketua PP Muhammadiyah yang tidak punya rumah sendiri. Tempat tinggalnya di Jalan Cik di Tiro adalah milik persyarikatan Muhammadiyah. Ketika beliau meninggal, istrinya kemudian ikut salah seorang anaknya, Sukriyanto AR. Sekarang, bekas rumah beliau itu telah dipugar dan dibangun gedung berlantai tiga yang menjadi kantor PP Muhammadiyah Jogjakarta yang baru, yang juga baru diresmikan pada 1 Muharram yang lalu. Namun bukan ini persoalannya. Para pengurus PP Muhammadiyah kalau sakit biasanya memang dilayani oleh Rumah Sakit Muhammadiyah. Seperti RSU PKU di Jogja atau RSI di Jakarta. Lukman Harun ketika sakit, sebelum meninggal, juga dilayani oleh Muhammadiyah di RSI Jakarta.

Ketika Pak AR kebetulan sakit dan mau operasi karena sakit, tidak ada satupun orang Muhammadiyah yang tahu. Pak AR sendiri juga tidak ingin diberi fasilitas. Tapi, sebuah kelompok pengajian kecil yang tidak jauh dari kediaman Pak AR tahu kalau Pak AR sakit dan mau operasi. Mereka tahu betul bagaimana keadaan Pak AR itu, seorang pensiunan pegawai Penerangan Agama Jawa Tengah yang gaji pensiunannya hanya 80 ribu, bukan ratusan ribu. Kelompok pengajian tadi lalu menyebarkan warta, dan terkumpullah uang sebanyak 600 ribu yang kemudian diserahkan kepada keluarga Pak AR untuk biaya berobat. Namun, setelah Pak AR sembuh, pengurus kelompok pengajian itu diundang Pak AR. Pak AR mengucapkan terima kasih atas bantuan tersebut, kemudian Pak AR memberikan bingkisan. Supaya puas, pengurus tadi membuka bingkisan itu. Di dalamnya ada uang 300 ribu. Pengurus kelompok pengajian itu kaget dan berkata bahwa mereka telah ihlas. Pak AR menjelaskan bahwa operasinya hanya menghabiskan biaya 300 ribu, maka sisanya dikembalikan.

Coba, apa ada sekarang orang yang seperti Pak AR itu. Yang ada malah sebaliknya, ada mubaligh yang sampai menawar harga untuk sekali ceramahnya. Saya pernah pergi ke Sulawesi, berdampingan dengan seseorang yang bercerita bahwa ia pernah sekali mengundang penceramah dari Jakarta. Amplopnya mesti 6 juta, belum termasuk tiket pesawatnya, dan ini harga mati. Begitulah. Tapi, kalau kita aktif di Muhammadiyah tidak boleh seperti itu.

Yang kita garap sekarang ini adalah ummat yang jumlahnya lebih dari 200 juta. Jika pada masa Kyai Haji Ahmad Dahlan itu kira-kira ada 30 juta ummat yang juga sudah memerlukan kekuatan untuk berdakwah, dan kekuatan itu berupa organisasi, maka sehebat-hebatnya Zainuddin MZ, yang dikenal sebagai da’i sejuta ummat, beliau tidak sanggup membangun ummat. Di Jogja juga ada mubaligh terkenal. Tapi, paling-paling beliau juga cuma bisa dikenal. Tidak akan bisa membangun ummat, karena untuk membangun ummat diperlukan kekuatan massa, dan kita harus mau serius.

Saya cukup tajam untuk menggugat tentang masalah pendidikan Muhammadiyah di sini. Saya buat global saja, baik UMS, UMM, UMY,
UHAMKA dan sekitar 130 PTM, ditambah puluhan ribu sekolah Muham-madiyah, 90% siswa atau mahasiswanya adalah bukan putra
Muhammadiyah. Termasuk di UMY, ketika saat itu ada training untuk mahasiswa baru, rata–rata sholatnya memakai usholli. Memang ada sedikit yang berasal dari IPM/IRM. Gugatan saya, baik yang di sekolah maupun yang di PTM, kalau mereka masuk di lembaga pendidikan Muhammadiyah, masuk dengan usholli dan keluar tetap usholli, maka Muhammadiyah sudah gagal dalam menyelenggarakan pendidikannya. Sehebat apapun sekolah Muhammadiyah, koq setelah sholat malah yasinan. Yang lebih ngeri lagi, karena kita tidak memikirkan hal itu, setiap tahun kita meluluskan sekitar 40 ribu siswa/mahasiswa. Dari sebanyak itu, berapa yang kemudian menjadi mujahid dakwah?

Saya pernah berbicara dengan Pak Umar Anggoro Jenie (mantan Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah), ketika menjelang Muktamar di Jakarta tentang hal ini. Siapa di antara alumni perguruan Muhammadiyah itu, yang tampil menjadi mujahid dakwah, pada hal mereka, kurang lebih lima tahun, di tangan kita, merah hijaunya para sarjana itu kita yang membuatnya. Juga yang di sekolah-sekolah Muhammadiyah itu, paling tidak selama tiga tahun mereka kita didik.

PKI, waktu itu, tidak punya lembaga pendidikan, tapi mereka mampu melahirkan kader-kader yang militan. Sedangkan di Muhammadiyah, siapa di antara kita yang pantas di sebut sebagai kader militan. Ini perlu menjadi PR kita, bagaimana mengurus Muhammadiyah secara serius. Jangan-jangan di Muhammadiyah ini malah cuma sekedar mencari penghidupan saja. Apakah kalimat semboyan “Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah” masih relevan? Padahal, waktu itu semboyan ini sangat terkenal dan biasa ditulis di majalah dan di dinding-dinding gedung amal usaha Muhammadiyah. Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini, dan bagaimana reaksi kita atas ungkapan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu.

Namun, alhamdulillah, dapat kita perkembangan Muhammadiyah saat ini sudah sebegitu pesat. Kita mungkin tidak tahu, yang namanya sholat Ied di lapangan pada waktu itu belum ada di kota Jogjakarta. Sebab saat itu sholat Ied hanya ada di Masjid Besar Kauman. Oleh Pak Sultan, tidak boleh shalat Ied di Alun-alun, kalau ingin shalat Ied di lapangan disuruh cari tempat sendiri, sehingga Muhammadiyah membeli lapangan Asri di Wirobrajan. Dan sekarang ini sudah menyebar ke mana-mana kalau sholat Ied itu diseleng-garakan di lapangan, sesuai dengan sunnah Nabi. Memang ada 9 hadis tentang masalah ini, tapi hanya ada satu hadis yang menyebut shalat Ied di masjid dan itu pun hadis dhoif. Kalau kita lihat di masjid-masjid, jika ada garis shaf yang miring tidak sejajar dengan bangunan masjid (karena menyesuaikan arah kiblat), itu adalah hasil dari perjuangan Kyai Dahlan. Dulu, untuk memperjuangkan lurusnya arah kiblat ini, langgar Kyai Dahlan di Kauman dirobohkan oleh tentara Kraton, karena Kyai Dahlan membetulkan arah kiblat di Masjid Besar Kauman. Itu adalah salah satu contoh pengorbanan beliau.

Orang tidak tahu bagaimana jasa-jasa Kyai Haji Ahmad Dahlan. Termasuk dalam hal qurban yang dilaksanakan di kantor-kantor,
sekolahan-sekolahan, dan lain-lainnya. Semua itu adalah jasa Kyai Ahmad Dahlan. Sekarang, dapat kita lihat sudah merebak di mana-mana, misalnya di kantor bupati menyembelih qurban seekor lembu, gubernur juga seekor lembu, dan sebagainya. Padahal menyembelih qurban di kantor dan sekolahan itu tidak ada nashnya. Alasanya hanya satu, yaitu latihan. Dan masih banyak lagi amal usaha Muhammadiyah yang dengan itu orang menjadi tahu Islam yang sebenarnya, melalui karya-karya Islami Muhammadiyah tersebut. Yang namanya surat Al-Maun, dulu hanya menjadi hafalan orang saja. Tapi di benak Kyai Dahlan, jadilah pengamalan dari surah itu,
panti-panti asuhan, rumah sakit-rumah sakit, yang merupakan pemahaman beliau atas surat Al-Maun.

Di sinilah keberhasilan dakwah Muhammadiyah dapat dilihat. Tanpa ada benturan yang berarti ia menjadi diminati oleh ummat. Cuma, sekarang masalahnya terletak pada diri kita sendiri, karena kita ini sudah menjadi pewaris amal usaha Kyai Haji Ahmad Dahlan. Pertanyaannya, untuk apa amal usaha yang telah diwariskan Kyai Haji Ahmad Dahlan itu. Mau diapakan, misalnya, anak-anak asuh panti asuhan yang hidup, makan, dan semuanya dicukupi Muhammadiyah, mau diapakan lagi mereka ini kalau
tidak kita jadikan kader kita.

Keempat dan Kelima, Bermuhammadiyah adalah Berjuang dan Berjihad serta Berkorban. Yang keempat, bermuhammadiyah itu berjuang dan berjihad. Yang kelima, bermuhammadiyah adalah berkorban. Untuk dua hal yang terakhir ini belum sempat saya angkat. Sebenarnya mau saya sampaikan karena waktunya belum ada, maka saya minta maaf.

*) Transkrip Ceramah Ustadz Ibnu Juraimi dalam Pengajian di PDM
Temanggung Jawa Tengah. Ditranskrip oleh Arief Budiman Ch.

7 April 2009

Politik


Kita harus kasihan pada Friedrich Nietzsche (1844-1900). Orang yang mengaku "membunuh Tuhan" itu, bahkan pipis pun dia tidak bisa.


Sosoknya begitu populer di dunia modern ini. Nietzsche mengatakan bahwa Tuhan tidak lagi mampu untuk berperan sebagai sumber dari semua aturan moral. (wikipedia.org/wiki/Tuhan_sudah_mati). Kalau saya boleh sedikit melakukan psikoanalisis, boleh jadi gagasannya tentang Tuhan itu adalah konsekuensi logis kehidupan masa lalunya. Konon Nietzsche dikucilkan oleh masyarakatnya karena ia seorang gay. Dengan alasan moral, masyarakat menjauhinya. Itulah mengapa ia begitu anti-moral. Di sinilah anehnya. Bahkan untuk ngurusi orientasi seksualnya saja ia tidak bisa, namun orang-orang sekarang begitu senang mengikut filsafatnya.

Itulah Nietzsche. Ia hanyalah sedikit dari manusia yang "dibunuh" oleh pikirannya sendiri. Jauh sebelumnya ada Machiavelli. Penggagas politik tanpa moral inipun begitu anggun mempengaruhi para politikus yang sangat berambisi kekuasaan. Ia mengatakan bahwa, seorang pemimpin sewaktu-waktu boleh menjadi kancil, namun di saat lain boleh menjadi singa. sehingga nama Machiavelli, kemudian diasosiasikan dengan hal yang buruk, untuk menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Orang yang melakukan tindakan seperti ini disebut makiavelis. Konon Hitler adalah penggemar berat Machiavelli.

Itulah politik dalam arti sempit (baca: kekuasaan). Ia pernah melahirkan sosok manusia-manusia pengidap megalomania. Semacam Fir'aun, Hitler, dan Namrud. Namun di sisi lain, politik "langit" mampu menghasilkan manusia sekaliber Rasulullah, Abu Bakar, Umar yang begitu anggun dan mulianya memimpin umatnya. Namun, politik tetaplah politik. Kita dibuat tidak faham, bagaimana mungkin Ali yang notabene ahli surga, berperang dengan Mu'awiyah yang juga sahabat yang diridhoi Allah??

Kita selalu berharap politik "langit" itu selau hadir di tengah bangsa ini. Tapi itu adalah sebuah mekanisme. Tidak bisa instan. Apakah jika tiba-tiba Umar bin Khattab memimpin Indonesia lantas rakyat Indonesia sholeh semua? Tidak bisa. Kekhilafahan dibangun nabi dari bawah dengan da'wah. Ia semacam "hadiah" dari Allah, dengan syarat kita beriman dan beramal sholeh (An-Nuur 54-ada lam dan nun taukid(penegasan) di sana).

Namun kita tidak boleh apatis dengan pemilu sekarang. Minimal, kita tinggal memilih yang bisa pipis diantara mereka.
wallahu a'lam

19 Maret 2009

Fisika Kuantum vs Fisika Klasik


“Fenomena fisika kuantum tidak mampu dijelaskan dengan teori-teori fisika klasik. Sederhananya begini, bagaimana mungkin dua orang bisa jatuh cinta hanya karena melihat sebuah bintang yang sama? Bagaimana fisika kuantum menjelaskannya?”


Sebelumnya, tolong jangan terlalu percaya omongan saya tentang fisika kuantum. Selain saya harus mengulang matakuliah ini semester depan (he..he.. Karena ada guyonan dosen bahwa untuk memahami benar fisika kuantum, minimal harus mengambil matakuliah ini 3 kali/ngulang.red). Fisika kuantum lebih mirip filsafat daripada sains. Ia hanya membicarakan “benda tak terlihat” yang tak jelas wujudnya. Sehingga untuk memahaminya, hanya dibutuhkan semacam trinitas suci: iman, iman, dan iman

Ada sedikit ilustrasi yang saya ambil dari sebuah situs:

(“Laboratorium berupa terowongan sepanjang 27 kilometer, 91 meter di bawah tanah Swiss, disebut sebagai penemuan terbesar abad ini. Large Hadron Collider (LHC) akan merekayasa ulang penciptaan bumi, tapi terowongan ini bisa meledak, bahkan menghancurkan bumi.
LHC yang berada di bawah pegunungan Alpen, perbatasan Swiss dan Perancis, merupakan percobaan fisika terbesar di dunia. Biaya konstruksi untuk pembangunan fasilitas ini mencapai 8,8 miliar dollar AS yang didanai oleh European Organization for Nuclear Research (CERN) bekerja sama dengan ribuan universitas dan laboratorium di seluruh dunia.”)

Lalu, apa yang akan mereka lakukan? Ternyata sepele. Mereka hanya akan menabrakkan benda-benda tak terlihat itu dengan kecepatan yang sangat besar. Konon sampai detik ini, partikel-partikel tersebut masih dipercepat dengan akselerator-akselerator hingga suatu saat nanti partikel-partikel tersebut siap untuk ditabrakkan..Pada titik-titik tabrakan tersebut dipasang detektor-detektor raksasa yg akan mencatat semua serpihan partikel super kecil yg dihasilkan pada setiap tabrakan. Saking besarnya salah satu dari detektor tersebut, konstruksinya bisa dipakai untuk membangun satu Menara Eiffel baru.

Bagi umat muslim, kita sudah sangat mafhum dengan potensi ruh. Itulah dahsyatnya "benda-benda yang tak terlihat" yang kita konversikan menjadi RUH. Kita menjadi faham mengapa Iman Abu Bakar mampu melampaui zamannya. Iman itu terasa hingga kini. Inilah alasan mengapa kadang amalan-amalan kecil yang sering kita anggap remeh, mampu menembus pintu-pintu langit. Tidak hanya itu, bahkan mampu menerobos sekat-sekat dunia-akhirat. atau setidaknya membuat bidadari di surga cemburu. Ayo, Sholat sunnah, dzikir pagi petang, sholat dhuha, membiasakan istighfar. .

Sebenarnya ruh inilah yang hilang dari umat ini. "Ar-Ruh Al Jadiid fii jasad al-ummah"..... wallahu a'lam

Oh ya, saya jadi lupa dengan pertanyaan awal tadi. Bagaimana dua orang bisa jatuh cinta dengan memandang bintang yang sama?? Begini, sebenarnya saya tidak terlalu serius dengan pertanyaan ini. Coba tanyakan pada matahari yang mengabadikan cinta siang dan malam.

11 Maret 2009

Aku (Hanya) Ingin Engkau yang Dulu


"Pengalaman batin para pahlawan dengan wanita ternyata
jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan" (Anis Matta).

"Kita harus merekonstruksi pemahaman kita terhadap ulama, -sekumpulan laki-laki tua yang khusuk berdoa, yang hampir-hampir tak pernah bicara cinta-. Justru dengan cinta, mereka tak kalah mulianya."

Sekitar 2,5 tahun pemerintahan Umar bin Abdul Azis yang mampu menghantarkan rakyatnya menjadi makmur, ternyata harus dibayar mahal. Fisik Umar turun begitu drastis. Saat itulah istrinya menghadiahkan seorang gadis kepadanya (untuk dinikahi) sebagai "kejutan" buat sang suami. Sungguh sangat ironis. Bagaimana tidak, Umar dahulu ternyata pernah mencintai gadis tersebut dan sangat menginginkannya, begitu pula dengan sang gadis. Namun keinginan itu ditolak sang istri dengan alasan yang sangat klasik, cinta dan cemburu. Namun sekarang, justru istrinyalah yang datang dan menawarkan gadis itu sebagai hadiah. Istrinya hanya ingin memberi dukungan moral buat suaminya..

Inilah saat yang paling indah bagi Umar sekaligus sangat mengharukan. Kenangan romantikanya hadir kembali di tengah pertaubatannya. Ada pertarungan batin yang hebat antara cita dan cinta. Pertarungan dahsyat terjadi di pelataran hati sang khalifah, sang ulama dan sosok mujtahid.. Pertanyaannya, apa ada yang salah jika Umar menikahi sang gadis?

Tidak. Sama sekali tidak ada. Tapi ini tak terjadi. Umar justru menikahkan si gadis dengan pemuda lain. Mengharukan memang, saya bahkan tak bisa mendramatisir bagian ini.(Ust.Anis Matta akan lebih kompeten). Yang jelas Umar memenangkan cinta yang yang lain. Cinta di atas cinta...

Luar biasanya, tidak ada cinta yang mati di sini. Ketika akan meninggalkan Umar, gadis itu bertanya dengan tersendu-sendu: "Umar, dahulu Engkau pernah sangat mencintaiku, lalu ke manakah cinta itu sekarang?". Hati Umar bergetar haru, ia menjawab: "Cinta itu masih tetap ada, bahkan sekarang jauh lebih dalam..".

24 Februari 2009

Antara Cahaya dan Kegelapan

“Cara untuk melenyapkan kegelapan bukan dengan mengusirnya, tapi datangkanlah secercah cahaya

Solomon Asch (1959) melakukan beberapa eksperimen tentang persepsi orang pada serangkaian kata-kata sifat. Misalnya:

  1. Istri saya: taat-cerdas-rajin-impulsif-ngeyelan-kepala batu.

  2. Istri saya: kepala batu-ngeyelan-impulsif-rajin-cerdas-taat.

Kata-kata pada tiap rangkaian sama, tetapi urutannya diubah. Maka menurut Solomon Asch, itu akan memiliki persepsi berbeda. Pada kalimat 1, orang akan melihat istri saya sebagai orang yang baik meskipun memiliki beberapa kekurangan. Sedangkan kalimat ke 2, orang akan menilai istri saya sebagai orang rusak yang memiliki beberapa kelebihan. Itulah KEKUATAN SUSUNAN KATA-KATA..

Itulah mengapa Allah mendahului surat Al-Baqarah dengan ciri-ciri orang bertaqwa. Baru dilanjutkan tentang orang kafir, munafiq, dan cerita tentang Bani Israel.

Itulah mengapa Allah mendahulukan Al-Haq kemudian batil pergi. (Al-Isra' 81).

Itulah mengapa dalam da'wah, mengajak kepada kebaikan didahulukan daripada mencegah kemungkaran. Dan kegelapan (“dzulumaat”-kata benda jamak) hanya akan pergi ketika dihadirkan cahaya (“An-Nur”-kata benda tunggal/mufrad).

Sejenak melihat sejarah sahabat Nabi. Dahulu, orang yang berzina datang kepada Nabi minta dihukum rajam. Mereka takut akhirat. Sedangkan saat ini, dengan UU pornografi orang sudah lari ketakutan. Dahulu orang lari kepada syari'at, sekarang orang lari dari syari'at. Aneh kan??

Tidak aneh. Karena pemahaman para Sahabat adalah keimanan puncak. Itulah mengapa pemahaman menjadi sangat penting. Tanpa pemahaman umat, apa yang terjadi setelah UU pornografi? nothing. Karena UU lahir hanya dari struktural (politik) , tanpa pemahaman yang baik kepada masyarakat tentang aurat. Sehingga banyak yang siangnya demo teriak-teriak anti-porno, tapi malamnya santai-santai saja nonton TV tanpa risih. Kalau kita melihat gambar porno di jalan, mungkin malaikat agak maklum karena secara refleks dan tidak sengaja. lha kalo televisi, bukankah remote ada dalam penguasaan kita? Bagaimana mungkin tegakkan syari'at Islam, tapi lalu-lintas saja dilanggar? (aduh, ekstim bgt ya?)

Jadi, siapa bilang saya alergi politik?

Saya jadi faham mengapa para politisi selalu mencitrakan bahwa diri mereka: religius, pintar, pro rakyat, bersih, adil, tidak korup. Dst.. Ya, karena kekuatan susunan kata-kata.

Meskipun mereka sadar bahwa mereka bukan jamaah malaikat.....(kasihan malaikat, mereka dijadikan tameng).


yogyakarta, 24 februari 09


12 Februari 2009

dari Padepokan "Ahmad Dahlan" hingga Pemilu


"Di Sumatera ada museum HAMKA, namun tidak kita dapati museum Imam Syafi'i, museum Ghazali, museum Ibnu Taimiyah, museum Hassan Al Bana. Sedangkan di Yogyakarta ada padepokan Ahmad Dahlan. Pemikiran-pemikiran mereka tidak akan usang ditelan zaman. Bukan sekedar pajangan dan hanya jadi tontonan."


Mengikuti mereka (bukan taklid ya!) adalah lebih aman dan selamat dari “politisasi”. Orang Al-ikhwan Al-Muslimun akan lebih baik jika mengikuti pendahulunya Hasan Al-Bana. 'Salafy' akan lebih aman mengikuti para pendahulu mereka. Muhammadiyah ada baiknya mengikuti jejak Ahmad Dahlan dalam amal usahanya, dst. Tentu mengikuti dalam konteks Qur'an dan Sunnah. Bukan justru taklid kepada tokoh-tokoh yang masih hidup.

Menurut saya, seperti ini bukan fanatik golongan. Justru sebaliknya, dengan syarat setiap kelompok berpegang dengan Qur'an dan sunnah. Kita lihat saat ini bahwa setiap kelompok membanggakan benderanya masing-masing. Dan bangga dengan kelompok serta jumlah pengikut. Para tokoh tentu harus berhati-hati dengan “jebakan massa”, istilah yang dipopulerkan Anis Matta. Kebenaran tidak boleh dipolitisasi, apalagi untuk kepentingan-kepentingan golongannya. Eh, saya tidak sedang membicaran “partai Islam” lho.

Ya, karena Islam adalah agama risalah bukan siyasah. Saya belum mendengar kisah Musa merebut kekuasaan Fir'aun. Ibrahim meng-kudeta Namrud. Rasulullah-pun tidak tertarik ketika ditawari jabatan. Siyasah berada di bawah risalah. Risalah da'wah lah yang utama. Maka, jika raja-raja di Jazirah Arab mau menerima Islam, toh Rasulullah tidak akan mencampuri urusan mereka.

"Tapi bukankah Islam mengatur segalanya ???"(ngeyel..).

Oke, tapi persoalannya menjadi rumit ketika kita dihadapkan masalah di negeri ini. Negeri yang mayoritas muslim tapi sistemnya tidak “Islami”. Di sinilah serba paradoks. Dengan sistem seperti ini ada yang anti, ada yang di tengah-tengah, ada yang menerima tanpa kritik. Kita belum bicara partai dan belum bicara jabatan. Apakah kekuasaan untuk tegaknya agama, atau agama dipolitisasi untuk mendapat jabatan dan kekuasaan? Tipis sekali kan? Kasihan rakyat yang di bawah, mereka tidak tahu....

"Nggak kok, kami berpolitik untuk kepentingan agama dan da'wah, Swerrrr!!! (ngeyel lagi..)

Tanyakan itu pada Raja Henry VIII, Anne Boleyn dan ratu Elizabeth I!!
Wallahu a'lam

8 Februari 2009

Mengapa Tega Mencaci-maki Sahabat??

Cukup mengharukan membaca teks pidato pengukuhan Prof. Yunahar Ilyas sebagai guru besar UMY. Di sana ditulis:

"Saya ingin menggunakan kesempatan yang berharga ini untuk mengangkat kembali sejarah pengumpulan Al-Qur’an (jam’u Al-Qur’an) untuk menegaskan secara akademik bahwa kitab suci Al-Qur’an yang sampai kepada kita sekarang ini benar-benar otentik dan valid sebagaimana yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, tanpa mengalami penambahan atau pengurangan satu ayat, bahkan satu huruf pun."

kemudian beliau katakan:
Demikianlah, sebuah mushaf telah tersusun atas inisiatif Umar, bimbingan Abu Bakar, tugas mulia Zaid dan bantuan para sahabat. Jazâhumullahu khairan katsîran. Mushaf tersebut disimpan oleh Abu Bakar, kemudian oleh `Umar (setelah Abu Bakar meninggal) dan Hafshah (setelah Umar meninggal).

Jazâhumullahu khairan katsîran. Kata-kata inilah yang hampir membuat saya menangis. Inilah doa yang seharusnya kita kepada seluruh sahabat.

Simaklah uraian Goenawan tentang Sayyidina Usman bin Affan r.a. dalam kolomnya:
“Mereka tak sekadar membunuh Usman. Menurut sejarawan al-Thabari, jenazahnya terpaksa “bertahan dua malam karena tidak dapat dikuburkan.” Ketika mayat itu disemayamkan, tak ada orang yang menyalatinya. Jasad orangtua berumur 83 tahun itu bahkan diludahi dan salah satu persendiannya dipatahkan. Karena tak dapat dikuburkan di pemakaman Islam, khalifah ke-3 itu dimakamkan di Hisy Kaukab, wilayah pekuburan Yahudi. Tak diketahui dengan pasti mengapa semua kekejian itu terjadi kepada seorang yang oleh Nabi sendiri telah dijamin akan masuk surga. Fouda mengutip kitab al-Tabaqat al-Kubra karya sejarah Ibnu Saád yang menyebutkan satu data menarik: khalifah itu agaknya bukan seorang bebas dari keserakahan. Tatkala Usman terbunuh, dalam brankasnya terdapat 30.500.000 dirham dan 100.000 dinar.” (Catatan Goenawan di Majalah TEMPO )

Ada satu buku lagi berjudul “Lobang Hitam Agama” (2005):
“Kita tahu, al-Quran yang dibaca oleh jutaan umat Islam sekarang ini adalah teks hasil kodifikasi untuk tidak menyebut “kesepakatan terselubung” antara Khalifah Usman (644-656M) dengan panitia pengumpul yang dipimpin Zaid bin Tsabit, sehingga teks ini disebut Mushaf Usmani.” (hal. 65).

Membicarakan mereka hanya membuat keras hati.
Al-Qur’an al-Karim sudah dihafal dan dicatat sejak awal, langsung sesudah ayat demi ayat, surat demi surat diturunkan pada masa Rasulullah SAW. Kemudian dibukukan dalam sebuah Mushaf pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dan disempurnakan pada masa Khalifah Utsman ibn ‘Affan RA dengan cara yang sangat meyakinkan. Tulisan, catatan dan pembukuan hanyalah alat bantu pemeliharaan, yang paling utama adalah Al-Qur’an dipelihara turun temurun secara lisan dengan sanad yang bersambung dan dipercaya. Alhamdulillah. Al-Qur’an sampai ke zaman kita tanpa bertambah dan berkurang sedikitpun sebagaimana dahulu diturunkan.
Al-Qur’an juga sudah ditafsirkan sejak awal, sejak generasi sahabat, tabi’in, tabi’it-tabi’in dan generasi selanjutnya baik dengan bentuk tafsir bi al-ma’tsur atau bi ar-ra’yi atau gabungan keduanya. Baik dengan menggunakan metode ijmali, tahlili, muqarin maupun maudhu’i. Corak penafsiran pun beragam sesuai dengan latar belakang mufasirnya. Untuk kebutuhan kita pada masa sekarang ini, gabungan tafsir bi al-ma’tsur dengan tafsir bi ar-ra’yi dan metode maudhu’i lebih cocok, tanpa melupakan apalagi mengabaikan metode yang lainnya.
Yang paling penting dari semua itu adalah sikap kita terhadap Al-Qur’an, apakah kita mengkajinya hanya sekadar untuk ilmu atau untuk dijadikan pedoman. Apakah kita hanya akan jadi sekadar pengamat atau jadi pengamal Al-Qur’an. Semuanya terpulang kepada kita semua. (Pidato pengukuhan)

Memang benar yang dikatakan seorang teman kepada saya. "Bangga ya Islam punya Pak Yunahar!!". Jarang ada profesor bener dan peneran.